Showing posts with label Creepypasta. Show all posts
Showing posts with label Creepypasta. Show all posts

Wednesday, November 20, 2019

Ruang Ketenangan

Ruang Ketenangan

Ruang ketenangan.

Aku mulai bosan akan kehidupan yang nyata ini, bisa di katakan lebih dari sekedar bosan. Disaat semuanya bisa ku raih, mereka mengagungkan ku, bahkan lebih dari itu, itu hanya dulu, ketika ayah ku belum mati.

Huft sudah pagi ternyata, aku menyibak tirai jendela, dengan enggan aku melangkah menuju kamar mandi, tiba-tiba aku mendengar suara gemericik yang berasal dari langit-langit kamar mandiku, seketika itu pula terlihat oleh ku segerombolan kelelawar tengah tidur dengan nyenyak.

Akupun heran, sejak kapan ada kelelawar disini, akupun menyudahi kegiatan ku di kamar mandi, dan mulai tidur lagi, karna aku harus menyempurnakan ritual ku untuk hidup di keabadian mimpi ku, hehehe.. bukan kah itu kelelawar yang ku keluarkan semalam dari mimpiku? Kekeh ku..

Dan ku selimutkan lagi diriku dengan kulit mereka, tak lupa ku teguk teh kental amis hangat yang begitu manis semanis keinginan ku, untuk mengeluarkan apapun itu yang kuinginkan dan mungkin isi perut mereka. Ayu Nursina

End

Tuesday, July 31, 2018

Story : Project Anesthasia


Siapa mereka?, siapa diriku?, aku tak tahu apapun yang terjadi saat ini. Mengingat hanyalah membuat rasa sakit yang ada pada kepalaku. Kedua tangan ku di borgol erat, bahkan sulit untuk menggerakan jari jari ini. Lampu ruangan yang berkedip kedip tanpa henti, serangga yang merayap-rayap diatas lantai retak dan kotor penuh dengan air yang terkontaminasi.

Panik sembari menggoyakkan rantai yang menyatuh dengan borgol ini. Mengapa aku berada di sini merupakan pertanyaan yang paling besar didalam pikiranku. Aku tak tahu harus berbuat apa, tetapi sesuatu yang tidak ku inginkan itu terlihat tengah mendekat dari balik pintu besi yang berkarat.
Panik semakin meninggi demikian juga dengan rasa takut yang tak terkendalikan. Aku terus menggoyakkan rantai tanpa henti, walau terdengar menghabiskan waktu yang sia-sia, aku beruntung rantai tersebut berkarat. Dengan satu kali tarikan rantai itu akan hancur.

Suara yang terdengar menggeliat seperti siput, cairan yang lengket mulai membanjiri sela-sela pintu. Aku berhasil terlepas dari rantai dan dengan berusaha ku mendobrak pintu itu sebisaku.
Pintu besi itu terbuka dengan mudahnya, dan terdapat koridor yang gelap. Sempat ku melihat kebelakang pintu besi itu, dimana sesuatu yang amat mengerikan terlihat dengan mata telanjang.
Sesuatu yang besar, hampir memenuhi ruangan koridor, berwarna putih pucat dan tentakel yang berada di wajahnya, sambil meraihkan tangan yang berlendir dengan ribuan tentakel bertaring tajam mencoba menggapai tanganku yang tengah terikat erat dengan borgol.

Ketakutan membuat ku membeku sementara, dan ku mencoba lari tanpa arah tujuan untuk menghidari dari makhluk itu. Tubuhnya yang besar mungkin sulit untuk bergerak tetapi lendir itu membantunya untuk menggeliati ruangan layaknya siput dengan cepat.

Berlari tanpa henti menuju pintu dengan kalimat keluar diatasnya. Aku mendobrak pintu itu seperti hal yang kulakukan sebelumnya. berhasil dan melihat cahaya yang terang di hadapan ku, aku berupaya menggapainya dengan senyuman yang lega.

Aku membuka mataku, melihat ruangan yang baru saja ku hindari yaitu ruangan yang sama. Pintu besi, rantai yang berkarat kini tidak lagi berkarat, serangga yang merayap diatas lantai retak dan kotor di penuhi air yang terkontaminasi dan suara yang tidak ingin kuingat kembali.
Terdiam dan membeku seperti patung, menatap langit-langit dan menyadari sesuatu keajaiban yang terjadi hanyalah mimpi. 

Senyum dan tertawa gila... " inilah akhirnya. "

Story by : Nathan Oliver Claire

Tuesday, January 16, 2018

Creepypasta 'Pita Kuning'


Pita Kuning

Ada seorang gadis yang selalu mengenakan pita kuning di lehernya, tak peduli siang ataupun malam, cocok ataupun tidak dengan pakaiannya, ia memiliki teman sejak kecil, John namanya. 

John tak pernah melihat gadis ini tanpa pita kuning di lehernya.
Berkali-kali John bertanya, berkali-kali pula gadis ini menolak memberitahunya. Waktu berlalu, John akhirnya melamar si gadis dan menikahinya. 

Di hari pernikahan, John kembali bertanya pada istrinya yang cantik jelita tentang pita kuning di lehernya. Sang istri dengan berlinang air mata menjawab.
"Kita sudah berbahagia selama ini, apakah ada bedanya..?"

John berhenti bertanya sejak saat itu. Mereka berkeluarga dengan bahagia dan punya dua anak. Di hari ulang tahun emas perkawinan, John kembali bertanya tentang pita kuning di leher istrinya. 
Sang istri menjawab, 
"Engkau sudah bersabar selama ini. Bersabarlah sebentar lagi." John mengiyakan.

Akhirnya, suatu ketika sang istri jatuh sakit. John, melihat hidup istrinya sudah tidak lama lagi, lalu dia menanyakan kembali kepada istrinya tentang pita kuning itu. Sang istri tersenyum dan berkata, 
"Baiklah John, kau boleh melepas pita itu sekarang."
Dengan hati berdebar, perlahan-lahan, John melepas pita kuning di leher istrinya. 
Dan bersamaan dengan jatuhnya pita kuning itu ke lantai, kepala sang istri pun ikut menggelinding jatuh.

Monday, January 15, 2018

Creepypasta 'Orang Tuaku Tidak Pernah Percaya Padaku'

Creepypasta 'Orang Tuaku Tidak Pernah Percaya Padaku'

Orang Tuaku Tidak Pernah Percaya Padaku

Saat umurku dua tahun, mama dan papa tak pernah memercayaiku saat aku membangunkan mereka dengan teriakan histeris, tubuh gemetar dan bermandikan keringat.
Mereka hanya menidurkanku kembali.

Saat umurku lima tahun, mama dan papa tak pernah memercayaiku saat dengan kata-kata gugup dan panik, kucoba menjelaskan suara aneh yang muncul dari bawah lantai kamar.
Mereka mengatakan bahwa suara tersebut hanya papan lantai yang bergesakan dengan angin.

Saat umurku tujuh tahun, mama dan papa tak pernah memercayaiku saat kemudian kusampaikan pada mereka, mengenai ancaman dari bisikan-bisikan ganjil yang terdengar saat malam.
Mereka mengatakan bahwa aku hanya berhalusianasi karena kurang tidur.

Saat umurku sembilan tahun, mama dan papa tak pernah memercayaiku saat aku terbangun dengan luka di tangan dan kaki, serta rambut yang lepas dari kulit kepala.
Mereka mengatakan itu semua hanyalah ulahku yang kulakukan tanpa sadar saat aku tertidur.

Saat umurku 12 tahun, mama dan papa tak pernah memercayaiku ketika kuceritakan kengerian saat bertatap muka dengan sosok dengan mulut sangat lebar di depan pintu kamar. Kami saling menatap dan terasa seperti berjam-jam lamanya tanpa berkedip, sampai kemudian sosok itu menutup pintu dengan perlahan.
Orang tuaku bilang bahwa hal itu hanyalah imajinasiku saja.

Saat berumur 15 tahun, aku tak memercayai orang tuaku ketika suara jeritan mereka merobek keheningan malam. Kuyakinkan diri bahwa apa yang kudengar hanyalah angin yang berembus kencang. Atau mungkin hanya imajinasi dan mungkin, aku hanya kurang tidur saja?
Jika mengingat kembali, aku hanya ingat satu hal.
Saat itu aku tersenyum.

Sunday, January 14, 2018

Kumpulan Cerpen Horror Part 4 (Content Warning)


Kembali update untuk Kumpulan Cerpen Horror sekarang yang ke part 4 nya, jika kalian ingin membaca part sebelumnya kalian bisa ketik di search bar Kumpulan Cerpen Horror, selamat membaca.

PULIH

Ayahku berjalan menuju lapangan. Dia sudah tak sabar ingin bermain sepak bola denganku. Namun bukan hanya denganku saja, sebenarnya ini rekreasi keluarga. Ayahku ingin merayakan kesembuhan ibuku yang 6 bulan ini sudah melewati masa sakitnya. Ditambah pula ayahku memilih tempat rekreasi yang sangat jauh dari keramaian kota, bahkan bisa dibilang terpencil. Ibuku mengidap kanker serviks dan kini ia bisa keluar rumah sakit karena telah sembuh, meskipun kini ibuku tak memiliki rambut karena kemoterapi.

"Nak, dimana ibu?" Tanya Ayah.
"Tunggu ibu dia masih dibelakang" kataku.
Ayahku yang tak sabar ingin bermain sepak bola terus meminta bola untuk dimainkan, namun kami lupa membeli bolanya.
"Dengan apa kita main, Ayah?" Tanyaku.
"Kita akan be-" Ayahku terdiam ketika melihat seseorang berbadan kekar memegang sesuatu.
"Aku sudah lama tak main bola, dan kudengar kalian kesulitan mendapatkan bola untuk bermain iya kan? Emm.. ngomong-omong bolehkah aku ikut bermain dengan kalian?" Kata orang itu sambil tersenyum memegang kepala ibuku.
"Disini sangat terpencil, dan jujur aku terganggu dengan kehadiran manusia seperti kalian. Ini bola yang bisa kalian mainkan, berhubung kepala ini bulat seperti bola sepak." Dia melempar kepala ibuku ke tanah dan seketika itu pula ia menyeringai dan mengambil golok berdarah dibelakangnya.


TELEPHONE

Malam itu aku ada rencana untuk pergi ke rumah teman ku untuk belajar kelompok bersama, setelah kurang lebih 1 jam aku dalam perjalanan akhir nya tiba juga di rumah teman ku.
Rumah nya tidak terlalu bagus dan tidak juga terlalu jelek, ketika aku sampai di depan pintu rumah nya aku merasakan hawa yang tidak sedap dan sedikit membuat diriku merinding tapi aku mencoba untuk menenangkan diriku sembari mengetok pintu rumah.

''tok..tok..tok'' ketuk ku memanggil teman ku Andi.
Seketika pintu rumah teman ku pun terbuka dan aku langsung di sambut oleh andi dan Teman-teman yang lain.

Kebetulan keluarga Andi sedang tidak di rumah jadi Andi lah yang menempati nya sekarang, kami memang di bagi berkelompok dan aku mendapat kan kelompok yang beranggotakan 8 orang.
Setelah agak lama kami belajar bersama tiba-tiba aku kebelet ingin ke WC, aku pun langsung berlari karna sudah kebelet pipis, setelah aku selesai pipis tiba-tiba Hp ku berbunyi, dengan refleks aku segera mengangkat telepon itu dan ku lihat nomor kontak nya ''sepertinya aku kenal nomor ini" pikir ku.
Setelah ku jawab seketika itu juga tubuh ku menjadi kaku dan pucat dan pandangan ku kosong menatap Hp
''Halo Diki ini Andi? oh ya soal kerja kelompok buat minggu depan kita tunda dulu ya, soal nya aku gak jadi tinggal di rumah, aku lagi ikut keluarga ke jawa buat wisudahan kakak ku"
Setelah mendengar kabar itu jantungku berdegup kencang dan segera aku bergegas keluar dari rumah andi.
Ketika aku melewati teras aku tidak melihat teman teman ku yang lain hanya keheningan semata, segera aku bergegas mengepak barang-barang ku dan langsung pergi meninggal kan rumah Andi, heran nya aku ketika melihat ke arah rumah andi dari kejauhan aku melihat 8 orang teman ku tadi menatap kosong ke arah ku tanpa sepatah katapun dan menyeringai lebar dengan mulut di penuhi gigi taring dan darah. Hanifah Azizah


ANTARA KUNTILANAK & BAKIAK


Malam ini aku terbangun karena mendadak ingin ke kamar kecil. Kakiku beranjak keluar kamar, mataku melihat ibu dan sibungsu Fikri masih tidur lelap diruang tengah. Tadinya aku ingin membangunkan ibu untuk mengantarku, tapi mendadak aku sama sekali tak tega membangunkannya, sepertinya ibu kelelahan apalagi sepanjang perjalanan tadi ibu mengais Fikri yang rewel. Jadi lebih baik aku kembali ke kamar untuk membangunkan Aisyah saja.

"Syah, Aisyah bangun!" Tanganku coba menggoyang-goyangkan badannya. Tapi hanya erangan tak jelas yang keluar dari mulutnya. Ia memang sangat susah untuk dibangunkan. Mau tak mau aku pencet hidungnya. Biasanya dengan cara ini dia akan bangun. "Kakak apaan ih? Aisyah ngantuk!" Ia mendumel kesal padaku dengan cemberut.
"Syah antar kakak ke luar, kebelet pipis nih," pintaku. Dirumah nenek memang tak ada kamar mandinya. Hanya ada empang disamping yang diatasnya ada air pancuran yang dikelilingi oleh anyaman bambu.
"Ah sama Nanda aja sana. Aisyah males keluar," gumamnya lalu ia membalikkan posisi badannya menjadi menyamping kemudian kembali tidur.

Berhubung Aisyah tak mau mengantarku, jadi aku memilih membangunkan Nanda yang tertidur disebelah Aisyah. "Nanda, bangun Nan!
"Kenapa kak?"ujarnya sambil mengucek matanya.
"Antar kakak keluar yuk! Kakak kebelet!
"Ih kakak udah gede juga. Kakak bangunin aja Rofatun atau Aisyah," gumamnya lalu terlelap kembali.
Aku menghela nafas kesal. Tak ada pilihan lain selain membangunkan Rofatun. "Fa, Rofa bangun!" aku menggoyang-goyangkan badannya. Mudah-mudahan ia mau mengantarku.
Ia menguap lebar-lebar sambil mengucek matanya. "Kenapa kak?"
"Antar kakak keluar ayo!" Gumamku. Tanpa ba bi bu aku menarik tangannya hingga ia terduduk.
"Aku ngantuk, males! kakak minta antar sama Aisyah atau Nanda," gumamnya lalu kembali berbaring dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Mataku memandang mereka dengan perasaan kesal. Mereka benar-benar tak ada rasa persaudaraannya. Tak ada pilihan selain aku pergi keluar sendirian. Dengan bermodalkan nyali sedikit aku membuka pintu dapur yang menghubungkanku keluar. Baru saja kakiku melangkah, udara dingin sudah menyergapku, angin berhembus meniup helaian rambutku dan membuat bulu kudukku meremang. Tak jauh dari rumah nenek aku dapat melihat ada kebun rumpun bambu yang bergerek-gerak tertiup angin.
Aku melangkahkan kaki ke arah pancuran, mendadak telingaku menangkap seperti ada orang disana memainkan air. Namun aku tak bisa melihatnya karena terhalang oleh anyaman bambu. Aku juga tak berani melihatnya, nanti aku di sangka mengintip. Jadi terpaksa aku harus menunggunya.
Sepuluh menit aku menunggu. Aku sudah tak kuat lagi menahannya. Jadi ku putuskan untuk menghampirinya, dari pada nanti aku pipis di celana. Itu lebih memalukan.

Berhubung malam ini terang cahaya bulan aku bisa melihat sosok yang membelakangiku didalam sana. Ia seorang perempuan berambut panjang.
"Mbak udah belum, saya kebelet pipis nih," kataku dari luar.
Bukannya menjawab si mbaknya malah tertawa terkikik membuat bulu kudukku meremang.
"Mbak saya serius, jangan main-main. Saya beneran kebelet nih!

Tubuhku tersentak kaget saat si mbak menengok ke arahku dengan memutarkan kepalanya 180 derajat. Mataku bisa melihat wajahnya yang pucat di iringi tawanya yang mengerikan. Mendadak aku teringat perkataan nenek, bahwa kita hanya boleh takut pada Tuhan dan kita tak boleh takut dengan makhluk yang lebih rendah derajatnya dari manusia. Jadi aku mencopotkan bakiak nenek yang ku pakai. Lalu melemparkannya tepat diwajah si mbaknya. Hingga ia pun berhenti terkikik. Michan Toby


MAKAN MALAM


Suasana malam ini sangat dingin dan sepi, mungkin karena aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru disini. Malam ini aku sedang duduk bersama dengan kedua anakku Jane dan Simon dan suamiku Ed, menyantap makanan yang telah aku siapkan dengan susah payah sedari tadi. Melihat anak pertama ku dan Ed yang menyantap makanannya dengan lahap membuatku bahagia, tapi tidak dengan anak keduaku, ia hanya mengaduk aduk makanannya
Ed : kau kenapa ?
Simon : tak apa ayah
Ed : lalu kenapa kau tak memakan makananmu ?
Simon : aku tak lapar ayah
Ed : oh, baiklah
Begitulah percakapan antara anakku dan ed.
aku sempat berfikir apakah memang Ia tidak lapar, padahal aku tidak pernah memberinya uang jajan sepeserpun, hanya bekal yang ku berikan pada saat ia pergi ke sekolah dan itupun selalu dibawa kembali olehnya dengan keadaan utuh. Malam itu kami lewatkan dengan simon yang tidak menyentuh makanannya.

Malam berikutnya aku membuat makanan kesukaan simon, udang goreng, dengan ayam goreng, Ia pasti memakan makanannya kali ini, karena ini adalah makanan kesukaannya. Seperti biasa Jane sangat lahap memakan makanannya, tapi dugaanku sepertinya salah, Ia hanya memainkan makanannya
Ed : Kau kenapa lagi simon ?
Simon : tak apa ayah
Ed : lalu kenapa kau tak memakan makananmu lagi ?, padahal ayah tau kau sangat menyukai udang dan ayam goreng buatan ibumu
Simon : aku hanya tak lapar ayah
Ed : dengar simon, ayah tau ini berat untukmu, kita harus berpindah ke rumah seperti ini, kita semua juga merasakan hal yang sama, ayah, ibumu, dan kakakmu, bukan hanya kau simon, ayah rasa ini pilihan terbaik kita untuk tetap bertahan hidup
Simon : tak apa ayah aku suka disini
Ed : baiklah kalau begitu pergi ke kamarmu

Begitulah percapakan anakku simon dan suamiku ed, simon pun berlalu ke kamarnya. Setelah selesai makan malam aku langsung membereskan semua nya dan pergi ke kamarku, Ed telah terlebih dahulu pergi ke kamarnya, terlihat dari muka frustasi ed yang memikirkan kondisi anakku saat aku merapikan meja makan. Setelah sampai di kamar aku tak menemukan keberadaan ed, mungkin Ia sedang pergi ke kamar anakku.

Aku langsung berbaring di kasur, dan tak lama kemudian aku terlelap
Simon : terima kasih ayah ini sangat lezat
Ed : apapun kan kulakukan untuk mu nak
Samar samar aku mendengar percakapan dari anakku Simon dan Ed.
Aku terbangun dari tidurku, tapi tubuhku tak bisa bergerak rasanya lemas sekali, seiring dengan pandanganku yang memudar, aku mulai kehilangan kesadaranku dan pandanganku sekarang menjadi gelap.


TAWA YANG PEDIH

Tommy, seorang remaja indigo yang sering mengalami serangan jantung. Tommy juga anak yang pendiam, dia menghabiskan hari-harinya di dalam rumah. Tommy adalah anak yatim. Ayahnya meninggal akibat kecelakaan maut. Kini ia tinggal hanya bersama ibunya. Namun, suatu hari Tommy mendapat berita yang membuatnya kaget tak terhingga. Ibunya meninggal akibat penyaki kanker yang di idapnya.

Hati Tommy remuk. Pecah berkeping-keping. Jiwanya bergejolak.
Suatu hari Tommy didatangi oleh arwah ibunya. Sosoknya begitu menyeramkan. Matanya merah darah, rambutnya panjang terurai. Wajahnya dipenuhi dengan luka.
Batin Tommy melambung tinggi. Jantungnya berdetak kencang. Raganya robek sudah. Ditambah lagi kelebihan indigonya yang membuatnya tertekan dan semakin tertekan. Kesadaran Tommy menghilang tanpa jejak. Meninggalkannya tanpa berpamitan. Tommy sudah tak waras. Hingga suatu ketika Tommy dikirim ke rumah sakit jiwa. Tommy berteriak. Dia meronta, menjerit sembari tertawa terbahak-bahak.

"AKU BUKAN ORANG GILA! AKU BUKAN ORANG GILA! HAHAHAHAHAHAA!!!" jerit Tommy. Dia tertawa dengan keras. Namun terdengar memilukan. Jeritannya semakin hebat dan membuat batin menjadi terkoyak.
"AAAA!!! AHAHAHAHAAA!!!" jeritnya sembari menitikkan air mata. Tawanya semakin keras dan semakin keras. Hingga beberapa hari setelahnya, Tommy tewas menghembuskan nafas terakhirnya. Dia meninggal akibat serangan jantung. Cerpen Horor

Friday, January 12, 2018

4 Fakta Tentang Lavender Town Syndrome

4 Fakta Tentang Lavender Town Syndrome

4 Fakta Tentang Lavender Town Syndrome

(Disarankan membaca postingan tentang lavender town yang sebelumnya agar lebih mudah memahami)
WARNING:

Disaat saya membaca mengenai lavender town syndrome saya mengetahui ada yang aneh dari kisah ini saya pribadi sedikit apatis dengan kisah ini, namun saya bingung apa yang salah dengan rumor sindrom lavender town ini dan dari bagian mana saya harus memulai menyelidiki atau mencari kebenaran dari kisah ini.

Saat pencarian itu saya menemui beberapa fakta yang menarik. Fakta fakta ini akan saya bagi dalan beberapa poin agar lebih mudah dipahami.

1. 2000 Anak Bunuh Diri
Ketika saya membaca dan mengetahui dampak dari lavender town ini saya sangat terkejut karena 2000 nyawa bukan angka yg sedikit saya berusaha memulai pencarian saya dari sini. Dan fakta yang saya dapat:
tahun 1990 an angka bunuh diri di jepang memang meningkat tapi bukan terhadap anak kecil korbannya adalah orang dewasa dan ini terjadi karena krisis ekonomi pada masa itu.
Krisis ekonomi ini berlangsung dari tahun 1990 hingga tahun 2000 salah satu kritis moneter terburuk yg pernah ada dalam sejarah yg biasa disebut "dekade yang hilang dari Jepang"
Dan sedikit informasi tambahan nampaknya tidak ada berusaha media yang memberitakan tentang anak yang bunuh diri di jepang pada tahun 1996 (karena tahun ini pokemon red dirilis di Jepang).
saya berusaha menggunakan berbagai kata kunci dan saya tidak menemukan. Satu pun media yang membahas tentang kasus bunuh diri anak dalam jumlah besar pada tahun 1996 di jepang, padahal jika ini benar benar terjadi ini adalah suatu kejadian yg luar biasa
dan mengetahui fakta kalau tidak ada satupun media yang meliput hal ini membuat keraguan saya bertambah terhadap rumor lavender town sindrom.

2. Komposer Dari Seri Pokemon Red
Saya memerlukan banyak bukti untuk meyakinkan diri saya sendiri dan satu fakta belum cukup untuk itu. Saya berusaha mencari komposer musik dari pokemon red yang seharusnya menjadi orang yg paling bertanggung jawab mengenai kematian 2000 nyawa jika rumor lavender town sindrom benar benar terjadi.
Tidak perlu usaha lebih menemui siapa komposer musik ini dengan bantuan wikipedia saya sudah mendapatkan data dan fakta yg menarik.
Komposer music di pokemon red adalah junichi masuda. Dia menjadi komposer di banyak series pokemon, bahkan ia menjadi komposer di banyak series pokemon contohnya adalah series pokemon go atau yang terbaru ultra sun dan ultra moon yang rilis tahun 2017.
Jika orang ini benar benar bertanggung jawab tentang nyawa 2000 anak kenapa saat ini dia masih dapat bebas dan terus berkarya? Pikirkan dan jawab lalu simpan jawaban itu untuk meyakinkan diri kalian.

3. Musik Dapat Mempengaruhi Kreatifitas, Emosi, Maupun Pikiran, FAKTA.
Musik memang dapat mempengaruhi pikiran, emosional, otak, kreatifitas, maupun imajinasi serta kesadaran. Tapi musik jenis apa atau bagaimana cara kerjanya? Jawabannya adalah binaural beats.
(untuk informasi lebih lengkap tentang binaural beats bisa kamu cari di google)
Secara spesifikasi memang konsol gba memungkinkan untuk menghasilkan binaural beats namun pada saat tahun 1996 dimana saat itu peralatannya belum memadai karena kebanyakan hanya menggunakan satu speaker yang nampaknya tidak akan berpengaruh atau menimbulkan efek binaural beats.
karena pada dasarnya bineaural beats bekerja dengan cara melibatkan dua frekuensi suara yg berbeda. Jadi nampaknya jikapun benar pada masa itu musik lavender town mengandung unsur binaural beats nampaknya seharusnya pada "masa itu" belum berefek sama sekali karena keterbatasan kemampuan perangkat.
Dan fakta terakhir

4. Awal Rumor Pertama Lavender Sindrom.
Rumor pertama muncul pada tahun 2005 di situs 2 chan tentang music Lavender town ini namun ini tidak ada menjelaskan tentang lagu yg dapat memicu bunuh. Diri. Namun ada penjelasan tentang rasa sakit kepala migrain yang dialami oleh anak anak setelah mendengar lagu ini itupun infonya belum ada bukti atau masih di ragukan kebenarannya.
Dan nampaknya rumor tersebut terus membesar seiring waktu dan terus dibumbui hingga menimbulkan runor rumor yang lebih seram melibatkan. Kutukan, bunuh diri, dan kematian. Seperti bola salju, bergulir dan makin membesar.
Sekian fakta yang dapat saya sampaikan mengenai lavender town syndrom ini semoga dapat menjadi referensi bagi kamu agar dapat menentukan untuk mempercayai atau menganggap lavender town syndom ini hoax.

HCI

Sunday, November 19, 2017

Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru

Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru

Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru - Berikut di bawah ini merupakan foto-foto penampakan hantu terbaru yang saya dapat di salah satu grup di fb, ada beberapa foto yang tidak bisa saya jelaskan tempat kejadian foto tersebut di ambil.

Deskripsi : Bete lagi nunggu order food masuk, iseng-iseng jeprat-jepret kamera pake Hp. Eh dapat yang beginian, di Pasar Modern BSD City Market Place.
Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru



Penampakan wanita misterius di Ind*siar, sebenernya ini foto penampakan atau foto salah satu penontong yang terkena effect cahaya ya? dalam foto tersebut terlihat seoarang wanita dengan mata yang seperti menyala dan tampak berbeda dengan penonton yang lain.
Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru



Penampakan Kuntilanak di persawahan, kurang jelas di daerah mana foto ini di ambil.
Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru



Penampakan Wanita di rumah kosong, di sini terlihat si dede lagi di foto namun di belakang atau di dalam rumah tersebut tertangkap sosok wanita sedang tersenyum, mungkin hantu nya juga pengen ikut foto.
Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru



Penampakan di bekas apartement. Kurang jelas di apartement mana foto ini di ambil. Namun dalam foto tersebut terlihat penampakan neng kunti di salah satu kamar apartement.
Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru



Deskripsi : Foto asli No edit no rekayasa, asli 100%
Ceritanya Ane dan temen Ane selepas magrib jalan menuju tempat ngaji. Iseng iseng foto foto dan ini salah satu hasilnya.
Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru



Penampakan kurang jelas, mungkin hantu nya pengen ikut main. dalam foto ini terlihat foto tersebut di ambil di sebuah lapangan.
Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru


Deskripsi : Foto di ambil saat mengobservasi suatu tempat rekreasi di daerah tanjung sari sumedang. Terlihat dalam foto tersebut ada bayang hitam yang tertangkap kamera di belakang  5 orang tersebut.
Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru



Kurang jelas foto ini di ambil di daerah mana, namun di dalam foto tersebut nampak seperti di area kuburan. Terlihat dalam foto pertama yang dia ambil tidak ada apa namun setelah foto ke 2 di ambil terlihat sepertibayangan putih tapi lebih jelas mirip pocong ya.

Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru


Demikian lah Kumpulan Foto Penampakan Hantu Terbaru ini, terima kasih telah mengunjungi blog ini.

Urban Legend 'Deadly Knock'

Urban Legend 'Deadly Knock'

Judul : Deadly Knock
By : Dhimas

“Bangun!! Apa kau tidak berfikir untuk kerja hari ini Tio?!” ucap Febri temannya. 
“Iya iya.. sabarlah!” ucap Tio sambil mengucek matanya
*DEGG
“Fe..Febri.. aku lupa kau sudah tiada” ucap Tio sambil menunduk

Flashback

“Heyy Febri.. bagaimana perasaanmu saat pertama kali kerja? Hwuahahahaha menurutku ini sempurna” ucap Tio sambil merangkul Febri saat akan pulang kerja. 
“Kau tahu Tio? Banyak yang bilang bahwa kantor ini angker.. sangat angker. Makanya aku menolak lembur bos tadi siang” ucap Febri. Tio hanya mengernyit.
“Jangan berfikir yang tidak-tidak bodoh.. itu hanyalah cerita yang berkembang disini.” Ucap Tio sambil tertawa di tempat parkir. 
“Tapi aku serius yo.” Ucap Febri dengan mimik yang serius. 
Tiba tiba angin datang dengan semilir yang dingin. Menakutkan. 
“A-ada apa?” ucap Tio gemetar. 
“Sebaiknya kita cepat pergi dari sini Yo” ucap Febri yang berlari ke mobil, diikuti oleh Tio.
“Ayo! Cepat aku sudah lelah” ucap Febri yang sudah msuk terlebih dahulu. 
“Tunggu aku masih bingung kenapa kau sangat terburu buru?!” ucap Tio penasaran. 
“Sudah! Aku bilang jalan saja!” ucap Febri marah. 

Tio bingung kenapa temannya jadi sangat emotional? Akhirnya mereka pulang dari kantor. Saat itu merekalah yang terakhir pulang.
Mereka tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan
“Tio” ucap Febri. 
“Ya ada apa? Apakah kau ingin mengajakku makan? Kau banyak uang?” ucap Tio terkekeh. 
“Bukan itu yo. Aku ingin melanjutkan ceritaku tadi.” Ucap Febri. *glekk Tio menelan ludah 
“Ya baiklah..” ucap Tio pelan.
“Sebenarnya... banyak yang bilang bahwa sudah ada banyak kasus pembunuhan maupun bunuh diri di kantor tersebut. Yang jadi masalahnya adalah, penyebab pasti kematian mereka masih belum diketahui. Sebagian saksi berkata bahwa korban korban kematian itu. Sebelum mati mereka mendengar suara seperti ketukan pintu yang berjumlah ganjil. Lalu ke esokkan harinya orang yang mendengar suara itu akan mati secara perlahan.” Ucap Febri mengakhiri ceritanya

“Okeh.. cukup ceritamu. Kurasa AC nya terlalu dingin” ucap Tio sambil mengecilkan suhu AC. 
“Tu-tunggu.. apa yang kau maksud mati secara perlahan?” sambung Tio. 
“Mereka mati dalam hitungan 24 jam setelah mereka mendengar suara itu. Bisa dibilang jiwa mereka... dihisap oleh ‘makhluk’ itu” ucap Febri dengan mantap. 
“A-apa kau tidak takut dengan ceritamu sendiri?” ucap Tio mulai ketakutan. 
“Hahahaha ayolah yo. Itu hanya cerita. Kau sendiri yang bilang bahwa hal itu tidaklah benar. Ya kan?” ucap Febri tertawa.

*Knok...knok...

“Su-suara apa itu?” ucap Tio setelah mendengar suara ketukan pintu. Padahal mereka berada di jalan tol yang sepi dan lancar. 
“Hi-hitung.. hitung jumlah ketukannya” ucap Febri dengan wajah yang sangat ngeri.

*knok...knok...knok...knok...

“Syu-syukurlah.. ketukan itu berhenti di enam ketukan.. harusnya kita baik baik saja..” ucap Febri dengan lega. 
“Ya semoga saja.” Ucap Tio dengan ketakutan.

*knok...

“Tu-tujuh” ucap suara yang dingin dari arah belakang.
*ckiiitt... Gubrak!

“Febri! Febri sadarlah!” ucap Tio. 
“Hi-hitung. Hitung waktunya” ucap Febri dengan terbata bata saat dibawa ke UGD. 
“baru 6 jam. Harusnya kita selamat” ucap Tio. 
“Ti-dak.. kau selamat. Kau tidak mendengar ketukan ketujuh kan?” ucap Febri dengan yakin. 
“A-apa? Ada 7 ketukan? Tidak tidak.. aku hanya mendengar 6” ucap Tio khawatir dengan temannya. “Kutukan ini akan berlanjut yo. Kau harus menerimanya. Kau hanya harus menunggu.. menunggu” ucap Febri sebelum masuk ke Ruang operasi.
“Tunggu! Febri!” ucap Tio ingin mengejar temannya tapi mustahil baginya. 

8 jam 

“Apakah benar anda bapak Tio?” ucap dokter disitu. 
“Y-ya.. bagaimana keadaan teman saya dok?” ucap Tio was was. 
“Alhamdulillah teman anda baik-baik saja. Dia hanya mengalami gegar otak ringan. Sehingga tidak terlalu parah. Dia harus beristirahat beberapa jam lagi.” Ucap Dokter tersebut. 
“Sebaiknya anda tidak mengunjunginya terlebih dahulu.” Sambung dokter itu. 
“baiklah dok. Saya akan kembali lagi nanti” ucap Tio

12 jam

“Febri.. kau sudah sadar?” ucap Tio yang setia menunggu di sebelahnya. 
“Y-ya apa yang terjadi?” ucap Febri. ‘Mungkin alangkah baiknya bila tak kuceritakan yang terjadi’ ucap Tio dalam hati.
“Kau kecelakaan karena aku mengantuk saat mengemudi” ucap Tio dengan ekspresi seakan akan bersalah. 
“Huh.. dasar kau bodoh. Sudah kubilang kau harusnya tidak menyetir saat mengantuk” ucap Febri terkekeh. 
“Oh ya.. siapa dia?” sambung Febri. 
“siapa?” ucap Tio menengok kesegala ruangan. Tetapi dia hanya sendirian. Toh keluarga Febri ada di luar pulau jawa. 
“Ituu.. yang ada di sebelah pojok dia selalu menatap ke arahmu” ucap Febri ringan sambil menunjuk ke arah pojok kamarnya. 
“Ti-tidak ada apa apa disana” ucap Tio menenangkan.
*srrrr
‘angin ini’ ucap Tio dalam hati

15 jam

*tut.. tut. Tut..
“Febri! Febri! Kau tidak apa apa?!” ucap Tio panik karena tekanan darah dan jantungnya tidak stabil. “DOKTER!! DOKTER!!” ucap Tio karena panik.
Dokter pun datang dan menangani Febri dengan cekatan. Tetapi Tio menangkap gerak gerik aneh. Saat menatap wajah Febri. Febri terlihat tersenyum sambil kejang. ‘apa-apaan ini?’ ucap Tio dalam hati merasa heran.

20 jam

*kring..kring..kring..

“Ya halo? Dengan tio di tempat?” ucap tio saat ada di rumahnya. Maklum saja tadi siang ia pulang kerumahnya. Karena ia juga butuh istirahat. 
“Apa?! Baiklah saya akan segera kesana” ucap Tio khawatir. Dia mendapat kabar bahwa temannya menjadi kritis. Ntah apa yag terjadi.
“Bagaimana dok?” ucap Tio. 
“Nak Tio.. mas Febri tadi tiba tiba collapse dan kami menebak mungkin nak Febri ini hanya bisa bertahan selama 5 jam lagi.” Ucap dokter itu. 
“li-lima jam?!” ucap Tio terkejut. Ia mengecek jamnya dan benar saja 5 jam lagi adalah waktu kejadian kecelakaan itu.

“Febri!” ucap Tio sambil menghampiri Febri yang terbaring lemas di kamarnya. 
“Tio” ucap Febri lemas,dengan wajah pucat dan tubuh yang dingin. 
“Tio.. ia sudah memulainya” ucap Febri dengan wajah datar. 
“Dia? Dia siapa?” ucap Tio ketakutan. 
“Makhluk itu. Yang berada di pojok.. semalam dia mengeluarkan seperti tentakel aneh yang menjijikan. Dia.. menghisapku. Tapi aku tak tahu apa yang ia hisap” ucap Febri. 
“Dan sekarang dia menatapmu dalam dalam” sambung Febri
*Glekk..
“A-apa apaan ini..” ucap Tio pelan. 
“tenanglah Febri ini sudah pukul 12 malam. Dan kau masih hidup! Positif lah bahwa kutukan itu hanya mitos. Kau masih hidup hingga sekarang” ucap Tio saat melihat jam bahwa sudah pukul 12 malam. “tidak.. kau salah.” Ucap Febri. 
“Dia mulai menggerogotiku. Aku akan.....” ucapan Febri terputus.
*Tuuuutt......
“Dia sudah tiada nak Tio” ucap dokter yang menjaganya. 
“Tidak! Tidak!? Kau tidak akan meninggalkanku sendirian kan?! Febri! Jawab?!” ucap Tio.

Now

Ya memang sudah beberapa tahun lamanya dia pergi. Tapi tetap kenangan tentang Febri tak bisa dengan mudah dihilangkan oleh kawannya. 
“Kau adalah teman yang baik. Karena kau adalah teman yang baik. Maka aku akan membunuhmu dengan cepat” ucap seseorang dalam kamar Tio. 
“Si-siapa kau?! Apa yang kau bicarakan” ucap Tio seorang diri. 
“Kau tidak usah naif! Kau tahu apa yang terjadi. Ini aku.. Febri. Yang ingin ku katakan adalah...” ucapan itu terputus untuk sementara.
“Aku akan mengambil nyawamu dengan tanganku sendiri” ucap suara itu dibarengi dengan datangnya Febri dari arah pojok kamarnya.

*KNOK....

“Sekarang jadi 7” ucap Febri dengan senyuman yang menakutkan. “Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!!!” Teriak Tio.

Keesokkan harinya

“Telah ditemukan seorang mayat dengan keadaan yang sangat memprihatinkan dengan organ tubuh yang berceceran. Diduga mayat ini baru ditemukan setelah 24 jam tertutup di lemarinya sendiri. Pada awalnya...” suara TV yang mmenuhi sebuah ruangan.
“Sudah kubilang bahwa kutukan itu hanyalah mitos” ucap Andi. Salah satu pegawai disana dan temannya.

*knok..knok...knok...


HCI

Wednesday, November 15, 2017

Creepypasta 'The Scissorman'

Creepypasta 'The Scissorman'

Creepypasta : The Scissorman

“Ayaaaahhh, aku ingin seekor Furby. Semua orang di sekolah sudah punya semua.” Sammy memasukkan kembali lollipop ke dalam mulutnya yang basah, kemudian mengelap tetesan hijau di dagunya dengan serbet.
Mr. Melrose menghela nafas.
“Ayah sudah memberitahumu kalau ayah tidak bisa membelikanmu mainan baru dalam waktu dekat ini, Sammy. Lihat tagihan-tagihan ini…” dan dia menatap kertas-kertas yang dipegangnya. 
“Uang tidak tumbuh dari pohon, Nak.”
Sammy terus menjilati lolipopnya.
“Tapi mereka dapat saling bicara! Dan bernyanyi! Kennie Hamble mengajarkan furby-nya mengatakan ‘Pika-chuuuuu’ dan masih banyak lagi.” Wajah tembam Sammy mengerut ketika dia hampir meneriakan nama monster kuning.
“Ayah baru saja membelikanmu Action Man yang baru minggu lalu, mengapa kau tak bemain dengan itu saja?”

“Tangan Action Man telah patah ketika aku tak sengaja menjatuhkannya dari jendela. Dan ayah kan tau kalau itu tidak dapat berbicara!! AKU INGIN FURBY!”
“Tidak, tidak sampai ayah-”
“Tapi mereka yang mempunyai Furby itu bukan orang kaya yang punya banyak uang.” Sammy meletakkan lolipopnya di kertas kerja ayahnya.
“TIDAK! Aku tidak akan membelikanmu. Berhentilah menjadi orang tamak, Sammy. Bermainlah dengan mainan yang sudah kau punya!”
“Furby! Furby!” Sammy berteriak dengan marah..
“Sekarang masuk ke kamarmu, anak nakal yang egois” Mr Melrose merasa sangat kesal dan lelah – kemudian dia ingat sesuatu dari masa kecilnya.
“Dan jika kau menjadi seseorang anak yang manja dan nakal, Scissor Man akan datang padamu di suatu malam yang gelap ketika kau sedang sendirian dan akan menggunting jari-jarimu! Ya, dia akan melakukan itu!. Sekarang bawa lolipopmu dan pergilah ke kamarmu!.”
“Aku tidak mau! Aku mau es krim!” Teriak Sammy lalu dia membanting pintu. 
“Aku tidak takut dengan Scissor Man,” gerutunya ketika dia berjalan menuju dapur untuk mengambil choco-ice.

Mr. Melrose mengambil lolipop tapi ternyata itu membuat kertasnya sobek. Lalu, dengan marah dia melempar lolipop itu, dan menenangkan diri di sofa. Dia menenggelamkan kepala di kedua tangannya dan mulai terisak.
“Aku berharap kau disini, Catrin. Aku sangat merindukanmu.”
Mr Melrose bukannya tidak berusaha bekerja keras - dia bahkan bekerja setiap waktu, berjuang untuk dirinya dan Sammy. Tapi itu semua terasa tidak berguna, mereka tetap saja selalu mengalami kekurangan. Di rumah pun dia masih harus dibebani oleh pekerjaan rumah tangga. Mencuci. Membayar tagihan-tagihan. Memasak. Berbelanja. Menyapu dll. 
Sammy juga menyita semua waktunya yang tersisa menyuapinya makan, memakaikan dan melepaskan pakaiannya, memandikannya, menghiburnya, menidurkannya, mengantar dan menjemputnya sekolah, dan masih banyak lagi. Bahkan dia tidak sempat bersosialisasi lagi. Dia terlalu lelah untuk berteman dengan seseorang.

Semuanya terjadi semenjak Catrin meninggal. Sejak saat itu, Mr. Melrose rasanya seperti tidak ingin keluar rumah lagi. Dia tidak ingin bertemu dengan teman-teman yang dia dan Catrin kenal. Catrin sangat mengagumkan baginya, Catrin adalah malaikat yang seperti tidak pernah melakukan kesalahan. Dia sangat baik, pintar, murah hati, dan perhatian. Dia selalu memikirkan orang lain sebelum memikirkan dirinya sendiri. Sangat peduli pada lingkungan sekitarnya dan rajin berkampanye tentang isu-isu lokal yang sedang hangat terjadi, seperti pentingnya menjaga dan memelihara pohon-pohon di taman, membentuk grup siskamling, dia bahkan tak makan daging karna menurutnya itu suatu kekejaman. Catrin yang baik selalu tersenyum ketika dia sedang bersedih – wajahnnya yang berbinar ketika dia tersenyum, mata birunya yang indah - semua itulah yang membuatnya sangat tidak bisa untuk tidak membalas senyumannya, karena dengan begitu dia akan merasa lebih lebih baik dan melupakan kesedihannya.

Tapi, Catrin tidak disana lagi untuk menguatkannya.
Dia terbunuh oleh pengendara mobil yang mabuk setahun yang lalu. Pengendara itu adalah seorang pebisnis yang habis makan siang dan sedikit minum - minuman beralkohol, dia merasa yakin bisa mengendarai mobilnya saat itu. Tapi ternyata dia tidak bisa mengendalikan kemudinya sehingga keluar dari ruas jalan. Pengemudi itu tidak bisa mengelakkan mobilnya dari Catrin sedang menyeberang menuju temannya yang melambaikan tangan padanya disisi jalan yang lain.

“Tapi ayahku bilang, Scissor Man akan menangkapmu kalau kau menjadi anak yang nakal. Ayolah jangan pelit, aku minta cokelatmu sedikit. Satu gigitan saja!”
Tapi Andrew malah memegang cokelatnya lebih erat lagi. 
“Tidak! Ini punyaku! Aku akan mengadukanmu pada guru jika kau masih tetap memaksa, Sammy!”
“Tapi kemudian Scissor Man akan menangkapmu!” Sammy tersenyum sinis pada Andrew sambil membuat gerakan seperti sedang memotong sesuatu dengan gunting di samping Andrew. Andrew yang lebih kecil dari Sammy, tiba-tiba menangis dan berlari ke Dinner Monitor (yang merupakan ibunya Kennie Hamble). Staf Dinner Monitor itu mendatangi Sammy yang sedang berdiri di dekat kotak sampah berwarna hijau.
“Apa yang telah kau lakukan pada Andrew, Sammy Melrose?” Mrs Hamble memasang wajah garang sambil berkacak pinggang.
“Aku hanya memberitahunya tentang Scissor Man yang akan datang dan memotongnya jika dia menjadi orang yang tidak menyenangkan.”

“Oh, Tuhan! Tidak ada makhluk konyol seperti itu, dan juga makhluk-makhluk konyol lainnya seperti Bogey Man, Wolf Man, atau Lizard Man.”
“Ayahku selalu meyebutkannya setiap aku nakal, jadi Scissor Man itu benar-benar ada! Dan jika kau berteriak padaku, maka Scissor Man akan memotongmu menjadi bagian-bagian kecil!”
“Aku tidak akan berteriak padamu, tidak akan pernah, Sammy. Tapi ayahmu seharusnya tidak mengisi otakmu dengan cerita-cerita sampah seperti itu. Dan kau juga seharusnya tidak menakut-nakuti teman-temanmu dengan itu. Itu tidak baik, Sammy.”
Ketika Mrs. Hamble berjalan menjauh, Sammy menggerutu, 
“Scissor Man juga bukan orang yang baik.” Kemudian dia menarik lolipop dari dalam mulutnya, dan menjulurkan lidah ke Mrs. Hamble.
“Baiklah, aku minta maaf, Bu.”
Sammy pura-pura membaca komiknya, tapi dengan seksama dia mendengarkan pembicaraan ayahnya ditelpon. Dia selalu begitu. Sekarang wajah ayahnya terlihat murung dan letih.
“Semua anak kadang seperti itu, itu hanyalah sebuah cerita, Mrs Chiltern.”
Mrs Chiltern adalah kepala sekolah. Sammy yang merasa dirinya sedang dalam masalah, perlahan mulai pindah ke dekat pintu belakang agar ketika ayahnya marah nanti, dia bisa bersembunyi di kebun belakang.

“Tidak, aku tidak menceritakan apa-apa padanya, dan aku tidak tahu darimana dia mendengar cerita seperti itu. Kau tahulah sifat anak-anak, dia pasti membuat-buatnya.”
Ayahnya diam sejenak.
“Baiklah, mungkin ini hanya kesalah-pahaman saja, Mrs Chiltern. Selamat malam.” Telpon ditutup. Tak berapa lama kemudian terdengar suara berat ayahnya,
“Sammy! Kesini kau!”
Sammy kembali ke ruang tengah dari tempat persembunyiannya di belakang pintu dapur.
“Apakah itu tadi Mrs. Chiltren , Yah?”
“Ya, dan aku tidak suka menerima telponnya tentang kenakalanmu . Kau telah menakuti anak-anak di sekolahmu…”
“Aku hanya berkata tentang Scissor Man, seperti yang ayah ceritakan padaku. Apakah ayah bilang pada Mrs Chiltern kalau bukan ayah yang memberitahuku?”
Muka Mr Melrose memerah. Mendadak dia menjadi malu pada Sammy kecil tentang pembelaan dirinya tadi.

“Baik, begini…”
“Kau telah berbohong, Ayah!! Itu berarti Scissor Man akan datang pada malam hari dan memotong lidahmu atau hidungmu!”
“Oke. Oke. Cukup… Sebenarnya tidak ada Sci-”
“Is! Is! Is! Kau menyebutkan namanya sekarang, kau tidak boleh menyebutkan namanya!!”
“Demi Tuhan, Sammy. Hentikan!”
“Berhenti apa? Aku tidak melakukan apa-apa!”
Sammy melempar komiknya kelantai dan berlari ke dapur sambil tertawa mengejek. 

Mr Melrose berusaha menahan emosi dan menenangkan diri. Dia melihat tumpukan tugas di meja kerjanya, kemudian koran yang dibelinya dua hari yang lalu tapi belum sempat membacanya. Dia menggosok matanya yang lelah, diraihnya koran itu lalu menghempaskan badannya ke sofa, kemudian membaca sekilas headline koran yang terlihat tidak menarik.
Mr. Melrose menghidupkan lampu ruang tengah. Kepalanya mendadak pusing ketika melihat ruangan itu sangat berantakan, majalah dimana-mana, bungkus-bungkus permen, dan tumpukan mainan. Terpaksa dia harus membereskan kekacauan itu. Tapi semuanya terasa sia-sia karena membereskannya tidaklah membuat ruangan itu menjadi lebih terlihat rapi. Masih banyak kotoran dan noda-noda yang lengket dan tak bisa hilang. Dia hampir putus asa. Dia merasa tak berguna, tak bisa masak, tak bisa membersihkan rumah, tak bisa menyelesaikan tugas kantornya. Dan yang paling parah adalah dia tak bisa membayar pembantu untuk melakukan semua itu.

“Sammy!” Panggil Mr. Melrose dari lantai bawah.
“Apaaaaaaaaa?”
“Turunlah sebentar.”
Mr Melrose sedang menggeledah isi kulkas ketika Sammy sampai di dapur.
“Makan apa kita malam ini, Yah?”
“Daging kalkun dan chip?”
“Tidak, kita sudah makan itu malam kemarin.”
“Oh ya? Ayah malah tidak ingat.”
Sammy tertawa, ayahnya memang pelupa.
“Errrm… bagaimana kalau pizza?”
“Tidak. Aku tidak mau. Yuck!”
“Baiklah, lalu apa?”
“Alphabite. Dan kacang polong.”
Mr Melrose kembali menggeledah isi kulkas, memilah-milah bermacam kotak di sana. Tangannya mulai kedinginan. Seingatnya, ada kacang polong di lemari, tapi Alphabite? Sepertinya tidak ada!

“Bagaimana kalau waffle sebagai gantinya?”
“Tidak, Alphabite!”
“Tapi kita tak punyai itu!”
“ALPHABITE dan KACANG POLONG! Aku mau itu!”
“Ayolah, Sammy. Jangan memancing emosi ayah. Kita tak punya alphabite. Tapi kita masih punya banyak persediaan makanan lain. Bagaimana kalau sausage roll?"
“Alphabite!”
Mr Melrose membanting pintu kulkas sehingga menyebabkan bunyi bedebum yang keras. Sammy melompat kaget. Tampaknya ayah mulai marah, batinnya.
“Baiklah! Alphabite untuk makan malammu! Aku akan keluar untuk membelinya di supermarket karena sepertinya aku tidak punya pilihan lain!!” Dia berjalan ke lorong dan memakai mantelnya. Dia juga tak lupa mengambil dompetnya dan kemudian kembali berkata dengan sinis, “Dan sepertinya aku tidak punya simpanan uang lagi. Oh ya, kau pasti akan mendapatkan Alphabite mu, Sammy.”
Lalu terdengar bantingan pintu depan.

“Baguuusss!!! Alphabite!” Sammy menari mengelilingi meja dapur, kemudian mengambil Mars and Twix dari tas berbentuk cokelat di lemari dan memakannya. Cokelat itu meninggalkan lelehan pada jari Sammy, dengan seenaknya Sammy kecil mengoleskannya ke dinding rumah yang bercat putih. Karena merasa kurang bersih, dia mengelap tangannya yang berlumuran cokelat itu ke handuk putih yang baru saja dicuci ayahnya..
Lalu dia melanjutkan bermain dengan mobil-mobilannya di ruang tengah dengan asyik, membuat mainan-mainannya berhamburan; membanting dan melemparnya.
“Makanlah.”
“Aku tidak lapar lagi!”
“Tapi kau baru memakan makananmu sedikit!”
“Ayah saja yang habiskan..” Sammy mendorong piringnya pada ayahnya. Lalu ayahnya mendorong kembali piring itu pada Sammy.
“Ayah tidak akan memakan makanan sisamu! Kau yang meminta dimasakkan makan itu, kau harus menghabiskannya!”
“Tapi rasanya tidak enak sama sekali!” Sammy mulai mengacak-acak kentang panggang di piring menggunakan jarinya, kelihatan sekali dia tak bernafsu untuk menghabiskan makanannya.
Mr. Melrose sudah benar-benar tak tahan.

“Kau sungguh keterlaluan, Sammy!! Ayah melakukan apa saja untukmu, tapi kau tak pernah menghargainya sedikitpun. Bagimu tak pernah cukup. Mengapa? Hah?” Mr Melrose dapat mendengar suaranya bergetar hebat, terdengar sangat emosi. Habis sudah persediaan kesabarannya malam itu.
“Aku hanya ingin permen tapi ayah tidak memperbolehkannya.” Bibir bawah Sammy mulai bergetar hendak menangis. 
“Aku ingin permen, dan aku ingin ibuku kembali. Kepergian ibu tidak adil bagiku.” Lanjutnya dengan lelehan air bening di pipi.
Mr. Melrose terkejut mendengar perkataan anaknya; kemudian dia melunak dan mengulurkan tangannya untuk memeluk Sammy. Tapi Sammy menolak pelukannya. Mata Sammy menatap ayahnya dengan galak.

“Jangan sentuh aku! Aku ingin ibuku kembali, bukan ayah! Dan aku ingin Aero!”
Mr Melrose kembaki syok lalu dia berteriak, “Kau tidak dapat mengembalikan ibumu, kau tidak selalu mendapatkan apa yang kau inginkan! Dasar kau anak yang tidak tahu terimakasih! Sekarang pergi ke kamarmu!”
Sammy berdiri dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya sambil menggerutu. Dia bahkan tak lagi menyikat giginya - selalu begitu kalau sedang merajuk. Setelah sampai di tempat tidur, dia mengambil Action Man-nya dan berlari-lari mengelilingi tempat tidurnya sebentar, berimajinasi kalau ada raksasa yang sedang mengejarnya. Kemudian dia memakai piyama Winnie-the-Pooh nya dan berniat pergi tidur. Dia mematikan lampu kamarnya, lalu membenamkan dirinya dalam selimut untuk memainkan tengkorak glow-in-the-dark nya.

Sementara itu di lantai bawah, Mr Melrose menangis. Dia membenamkan diri pada kedua lengannya, dan mulai terisak. Dia sangat membutuhkan udara segar malam itu dan akhirnya memutuskan untuk keluar rumah sebentar. Yang terpenting adalah, dia perlu menjauhi Sammy untuk beberapa saat.
Akhirnya Mr. Melrose keluar rumah dan pergi ke makam istrinya, duduk di sana sambil menenangkan diri. Angin malam tak mengendurkan niatnya. Di letakkannya mantel didekat lampu neon yang dia bawa dari rumah.
Sammy yang mendengar pintu depan tertutup, mengetahui kalau ayahnya keluar rumah.
“Ha! Sekarang aku bisa makan permen dan coklat itu!” Serunya sambil membayangkan mengunyah Aero favoritnya. Dia biasanya menyembunyikan beberapa di bawah bantalnya tapi ternyata yang tersisa hanya lah bungkusnya malam ini. Akhirnya dia kembali bermain dengan tengkorak glow-in-the-dark-nya. Dia berharap bisa bersinar seperti itu. Besok, dia akan meminta ayahnya untuk membelikannya baju atau sesuatu yang bisa membuatnya bersinar seperti glow-in-the-dark.

Beberapa menit telah berlalu ketika dia membayangkan dapat menakuti anak-anak di sekolahnya dengan bersinar seperti glow in the dark di dalam lemari kelas yang gelap. Dia lalu mendengar pintu depan tertutup perlahan, nyaris tak terdengar, hanya bunyi 'klik' yang pelan. Sammy berjinjit ke lorong kamarnya masih dengan selimut menutupi tubuhnya. Dia mengira ayahnya sudah pulang, maka dia ingin mengeceknya. Tapi, anehnya ruangan di lantai bawah masih dalam keadaan gelaip - tak mungkin ayahnya membiarkannya gelap kalau memang dia sudah pulang. Bahkan, ketika dia berdiri disana, dia mendengar bunyi 'klik' dari pintu dapur, tapi rumah tetap dalam keadaan sangat gelap. Apakah mungkin ayah sudah mematikan lampu dapur juga? Tapi mengapa? Kemudian Sammy ingat bahwa ayahnya sering melakukan itu ketika dia sedang bersedih dan duduk merenung di dalam kegelapan. Ayah memang sangat konyol.

Sesuatu terlihat bergerak di dapur. Kedengarannya seperti laci dapur yang terbuka dan tertutup. Oh, mungkin ayah pulang lagi untuk mengambil dompetnya yang tertinggal, pikir Sammy.
Sammy mencoba menajamkan telinganya, tapi tak terdengar apa-apa lagi. Kemudian seseorang menendang pintu belakang. Oh, ayah sangat tidak hati-hati kali ini, mungkin ayah mengira aku sudah tidur, kata Sammy dalam hati.
Setelah menutup pintu belakang, ayah pasti naik ke lantai atas. Dia berharap ayahnya akan memberikannya cokelat ketika naik ke lantai atas nanti sambil meminta maaf telah membentaknya, seperti yang biasa ayah lakukan. Tak lama kemudian, Sammy mendengar tangga kayu berderit.

“Oh, ayah sedang naik ke atas. ” Girang Sammy dalam hati. 
Sammy perlahan menuju tempat tidurnya dan kembali menenggelamkan diri dibalik selimutnya. Dia berpura-pura tidur, dan mungkin ayah tidak akan mengganggunya. Kemudian Sammy akan mengejutkan ayahnya dengan berkata ‘Boo!’ maka ayahnya akan tertawa sambil memeluk dan memberikannya cokelat.
Anak tangga berderit lagi, terus sampai puncak tangga. Tetapi ada suara lain disana. Pertama terdengar pelan, tetapi lama-lama semakin semakin kencang - suara itu seperti suara gesekan gunting besar. Suaranya sangat mengerikan. Setiap sepuluh detik sekali, suara itu muncul. Suaranya terdengar seperti gunting besar yang memotong udara kosong. Imajinasi Sammy mulai membayangkan sesuatu yang tidak ingin dia lihat, apalagi dalam keadaan seperti itu. Kalau itu ayahnya, mengapa dia diam saja?

Craasshhh! Suara itu semakin mendekati puncak tangga. Kemudian rumah kembali sepi.
Craasshhh! Suara itu mendekat, semakin mendekat. Terdengar lebih kuat. Sepertinya kini berada didepan pintu kamarnya. Sammy berharap suara itu akan segera menjauh. Dia sudah tidak ingin Aero lagi, dia hanya berharap ayahnya akan pergi ke kamarnya saja, karena kini dia mulai merasa ketakutan.
Dia mendengar deritan pintu kamar terbuka perlahan. Dia bahkan tidak mempunyai keberanian untuk mengintip keluar dari balik selimutnya. Dia hanya memegang erat-erat tengkorak glow-in-the-dark-nya. Rasanya dia tidak ingin lagi berteriak ‘Boo!’ sekarang.

Craasshhhh!!! Suara itu sudah dekat sekali dengan tempat tidurnya, menggema didalam kegelapan yang sunyi. Suara itu adalah suara gunting besar pemotong rumput.
“A-a-ayaa-a-hh, a-apa-k-k-ah itu k-a-a-u-u?” Tanyanya tergagap dari balik selimutnya.
Craaassshhh.. Dia mendengar gunting besar itu merobek selimutnya sekarang. Dan belum sempat Sammy mendengar jawabannya, logam yang dingin telah menyentuh kulitnya dan menebas lehernya.
Untungnya, Sammy tak pernah tahu kalau itu memang benar adalah ayahnya.

Monday, November 13, 2017

Creepypasta 'Teman Facebook'

Creepypasta 'Teman Facebook'

Kamu punya akun Facebook? Kamu pernah mendapat permintaan pertemanan dari orang-orang yang bahkan tak kamu kenal? Nah, aku mungkin salah satu dari mereka.
Semua dimulai sejak setahun yang lalu, banyak hal terjadi setelahnya. Awalnya, Aku sama sekali tidak tertarik dengan Facebook. Apalagi, membiarkan seluruh dunia mengetahui betapa tidak terkenalnya diriku adalah sebuah penghinaan bagiku.

Di sekolah, aku adalah seorang penyendiri dan tak memiliki seorang pun teman. Aku merasa kesal ketika orang-orang mengacuhkan dan enggan bicara padaku, seolah tidak menganggap kehadiranku. Setelah terus mendengar mereka membicarakan Facebook, akhirnya kuputuskan untuk membuat sebuah akun.
Awalnya sedikit menakutkan, maksudku, membiarkan dunia tahu aktivitas apa yang sedang kulakukan. Hingga, akhirnya aku menyerahkan privasi dan kebebasanku, dan berusaha untuk beradaptasi. 

Facebook terasa begitu asing bagiku, tidak ada pemberitahuan apapun, tidak ada pesan apapun dan daftar teman yang masih kosong. Semua ini, mengingatkanku pada kehidupan nyataku, namun kali ini semua orang dapat melihatnya.
Meski begitu, aku tetap menjelajahi situs ini lebih jauh. Aku masih ingat hal yang pertama kali kulakukan saat menggunakan Facebook. Kau tahu permainan yang ada ikannya itu ? Aku sering memainkannya selama berjam-jam. Aku akan membeli banyak ikan, tetapi aku tidak memberi mereka makan.
Melihat mereka mati perlahan adalah sesuatu yang amat menyenangkan. Aku mungkin akan terus berkutat dalam game ini, jika aku tidak menerima permintaan pertemanan pertamaku.

Ini sulit dipercaya, seseorang ingin menjadi temanku! kuklik 'konfirmasi' dengan segera. Aku girang bukan main. Kulihat profil teman baruku dan pada akhirnya menyadari apa Facebook itu sebenarnya. Ia memiliki ratusan teman dan pembaruan status yang tak terhitung jumlahnya, masing-masing mendapat paling tidak 5 'likes'. Aku juga ingin seperti dia.

Aku mulai mengecek daftar temannya dan menambah semua nama yang tertera disana sebagai temanku, butuh sekitar lima atau enam jam tapi usahaku terbayar sudah. Aku tak mengenal satupun dari mereka. Beberapa dari mereka mengabaikanku, sementara lainnya menerima permintaanku tanpa berfikir dua kali. Perlahan, aku mulai mempelajari sedikit banyak tentang mereka.

Aku menghabiskan dua minggu menambah begitu banyak teman, juga semua yang mereka kenal. Tak berapa lama, popularitasku semakin berkembang dan orang-orang mulai mengetahui siapa diriku. Beberapa anak disekolah bahkan telah mulai berbincang denganku. Aku tak pernah menyangka hal ini sebelumnya. Namun, aku mulai jatuh hati pada jejaring sosial.
Hingga tanpa kusadari, aku telah kecanduan Facebook. Aku merasa kesal ketika offline, dan sungguh penasaran apa yang sedang teman-teman mayaku lakukan saat ini. Aku muak membuang-buang waktu disekolah. Setiap jam kulalui tanpa Facebook terasa begitu membosankan. Aku meluangkan tiap kesempatan, berusaha untuk tetap terjaga saat malam dan mengabaikan rasa lelah untuk bermain Facebook.

Aku mulai mengidap insomnia, yang mana berarti akan ada lebih banyak waktuku dengan internet, terutama setelah semester baru saja berakhir, dan itu bagus. Tak kulewatkan sedetikpun tanpa teman-temanku di Facebook.
butuh waktu cukup lama sebelum aku menyadari sesuatu yang menjengkelkan, masih banyak orang yang menolak permintaan pertemananku. Aku telah mengirim ribuan request dan aku hanya memiliki 1000 teman. jelas ini tidak beres.

Apa yang salah dengan mereka ?
Mengapa mereka enggan berteman denganku ?
Kenapa ?
Harus ada penyelesaian untuk mereka yang masih mengabaikanku. Dan satu-satunya cara adalah dengan menyingkirkan mereka.
Aku ingat korbanku yang pertama. Sungguh, aku sangat membenci penolakannya terhadapku. Ia masih begitu muda dan cantik. Dan aku tak akan pernah melupakan tatapannya... yang begitu tajam dan menusuk.

Satu-satunya hal yang paling kuingat adalah banyaknya darah di tubuh dan keras jeritannya.
Aku menikmati tiap kali aku memilih korban baru.
Coba kau pikir. Aku baru saja mengirimkanmu permintaan pertemanan. Jika aku jadi kamu, aku tak akan punya cukup nyali untuk mengklik 'lain kali'.

Friday, November 10, 2017

Kumpulan Cerita Pendek Terseram

Kumpulan Cerita Pendek Terseram

Di bawah ini merupakan Kumpulan Cerita Pendek Terseram  atau bisa disebut juga Creepypasta yang saya dapatkan dari salah satu youtuber, sangat cocok untuk kalian yang suka sama cerita-cerita seram namun pendek. Happy reading.

I See You (Aku melihat mu)
Seorang suami membunuh istrinya saat anak nya yang berumur 5 tahun sedang tertidur. Anehnya anak nya tidak menanyakan tentang ibunya bahkan setelah 3 hari ibunya hilang, lalu ia bertanya kepada anak nya.
Ayah : "Apa ada sesuatu yang kamu mau tanyakan kepada ayah?"
Anak : " Tidak, aku hanya penasaran saja, kenapa ibu selalu berdiri di belakang ayah?"

12.07 Am (Jam 12.07 malam)
Hal yang terakhir yang aku lihat adalah alarm di jam 12.07 sebelum dia menusuk kuku busuk nya ke dada ku dan tangan satu nya menutup mulutku. Aku terbangun dan lega ternyata itu hanya mimpi saja, tapi ketika aku melihat Hp sekarang jam 12.06, lalu aku mendengar pintu kamar ku terbuka perlahan.

Double Son (Anak ganda)
Sewaktu aku menidurkan anak ku dia berkata,
"Pah jangan lupa cek ada monster apa enggak di bawah tempat tidur ade"
Untuk menenangkan dia aku pun melihat ke bawah tempat tidur, di bawah tempat tidur kulihat anak ku menatap ketakutan dan berbisik,
"Pah ada orang di tempat tidur ade"

Who's There (Siapa di sana)
Semalam teman ku buru-buru mengajak aku pergi untuk melihat sebuah acara di bar lokal, setelah menenggak beberapa minuman aku sadar Hp ku tidak ada di kantong. Aku pun mengecek kembali ke meja yang kita dudukin tadi, lalu ke bar, lalu ke kamar mandi tapi tetap saja tidak ada. Aku pun meminjam Hp teman ku untuk menelpon Hp ku, setelah ku telpon 2x ada yang mengangkat dan hanya bersuara "ha..ha..ha." suara ketawa yang amat berat terus dia matikan telponnya, lalu ku telpon kembali namun tidak ada yang mengangkat telponnya.
Aku pun pasrah dan mengiklaskan Hp nya, setelah aku pulang kerumah aku menemukan Hp ku ada di sebelah lampu kamar tidur ku dimana aku meninggalkannya.

Charlie 
Aku paling benci ketika adik ku harus pergi, papa dan mama ku selalu menjelaskan betapa sakitnya Charlie bahwa aku beruntung mempunyai otak yang normal, ketika aku mengeluh bosan karna tidak bisa bermain bersama Charlie papa ku bilang "pasti Charlie lebih bosen dari kamu, dia di kurung di kamar gelah di sebuah institusi".
Aku selalu memohon kepada papa dan mama untuk memberi kesempatan kepada Charlie, lalu papa membiarkan Charlie pulang beberapa kali dan selalu ketika Charlie pulang mulai bermunculan kejadian-kejadian aneh. Mulai dari kematian kucing tetangga yang matanya sudah di congkel keluar tiba-tiba muncul di box mainan nya, lalu silet cukur papa yang muncul di perosotan anak-anak, dan obat-obatan mama yang di ganti dengan potongan sabun sama Charlie. Dan sekarang papa gak ngebolehin lagi Charlie untuk pulang.
Aku paling benci kalau adik ku Charlie harus pergi, kalau dia pergi aku harus pura-pura baik sampai dia pulang.

Basement (Ruang bawah tanah)
Ibu melarang aku untuk pergi ke basement, tapi aku ingin melihat suara itu, suaranya seperti suara anak anjing dan aku sangat ingin melihat anak anjing itu. karna penasaran aku pun ke Basement, Jadi aku buka pintu basement nya diam-diam turun ke bawah, namun aku tidak melihat anak anjing di sana, lalu tiba-tiba ibu menarik aku, ibu menarik dan membentak aku, ibu tidak pernah membentak aku, aku sedih dan menangis, ibu bilang "jangan ke bawah lagi ya" lalu ibu memberiku kue dan aku merasa sedikit lebih baik, jadi aku tidak menanyakan anak kecil yang di ruang bawah tanah membuat suara seperti anak anjing atau kenapa dia tidak punya tangan dan kaki.

Bad Habit (kebiasaan buruk)
Jack tinggal sendiri di sebuah apartemen, dia mempunyai kebiasaan mematikan lampu sebelum tidur. Suatu malam ketika dia tiduran di kasurnya perlahan dia mulai terlelap, tapi dia terlalu malas untuk mematikan lampunya, tiba-tiba ada suara perempuan yang bilang "jangan di biasain ya, aku lakuin ini hanya kali ini saja" lalu lampu pun mati dengan sendirinya.




Thursday, November 9, 2017

Creepypasta 'Lubang Pintu'

Creepypasta 'Lubang Pintu'

Creepypasta : Lubang Pintu

Seorang gadis bernama Donna yang berumur 15 tahun tinggal bersama ayahnya di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Semenjak ibunya meninggal, Donna selalu mengandalkan ayahnya untuk segala urusannya. Mereka memiliki hubungan yang harmonis dan saling menyayangi satu sama lain.

Suatu pagi, ayah Donna pergi untuk perjalanan bisnis. Saat mereka sarapan, ayah Donna berkata jika dia akan pulang larut malam. Setelah itu, ia mencium kening anaknya, mengambil tas, dan kemudian berjalan keluar dari rumah.

Kemudian pada hari itu, ketika Donna pulang dari sekolah, ia mengerjakan beberapa pekerjaan rumah dan menonton TV. Ketika tengah malam, ayahnya masih belum pulang sehingga ia memutuskan untuk pergi ke tempat tidur.

Pada malam itu ia mengalami sebuah mimpi. Dia melihat bahwa dirinya sedang berdiri di tepi jalan raya yang begitu sibuk. Mobil dan truk melaju dengan kecepatan tinggi. Dia memandang ke seberang jalan dan melihat sosok seseorang yang sepertinya ia kenal. Itu adalah ayahya, tangannya seperti membentuk sebuah corong disekitar mulutnya dan tampaknya ia berteriak ke pada Donna, tetapi dia tidak bisa mendengar apapun.

Saat mobil-mobil melaju dengan sangat cepat, ia berusaha mendengar apa yang ayahnya katakan. Mata ayahnya begitu sedih. Dia tampak sangat putus asa untuk mengatakan kepadanya. Dia berhasil mendengar beberapa kata dari ayahnya,

"Jangan..... buka..... pintunya....." Tiba-tiba, Donna terbangun dari mimpinya oleh suatu suara yang aneh.

Tap Tap Tap.

Kemudian ada seseorang yang membunyikan bel di lantai bawah.

Ding ding ding.

Dia bergegas bangun dan langsung memakai sendal tidurnya. Kemudian, dengan hanya menggunakan baju tidurnya ia bergegas menuruni tangga menuju pintu depan.

Dia kemudian mengintip melalui lubang pintu untuk mengecek. Ia melihat ayahnya sedang berdiri di luar sambil terus menatap kepadanya. Sedangkan, bel pintu terus berdering.

"Ok, tunggu! Aku datang!", teriaknya.
Dia kemudian membuka kunci pintu dan hendak membuka pintu, sampai ia berhenti.

Ia kembali mengintip ayahnya melalui lubang pintu. Sesuatu tentang ekspresi ayahnya terlihat janggal, matanya terbuka lebar, sepertinya ia sangat ketakutan.

Dia kembali mengunci pintu rumahnya.

"Ayah!" teriaknya dari balik pinut, "Apakah kau lupa kuncimu?"

Ding ding ding.

"Ayah, jawab aku!!"

Ding ding ding.

"Ayah, tolonglah! Aku perlu kau menjawab ku!"

Ding ding ding.

"Apakah ada orang lain, bersamamu?"

Ding ding ding.

"Kenapa kau tidak menjawab ku?"

Ding ding ding.

"Aku tidak mau membukakan pintu, sampai kau menjawab ku!"

Bel pintu terus berdering dan berdering, tetapi untuk beberapa alasan ayahnya menolak untuk menjawab teriakan putus asa dari anaknya.

Selama sisa malam, gadis yang ketakutan itu terus menerus meringkuk di sudut lorong, tak berdaya sambil terus menerus mendengar bel dari pintu yang terus menerus dibunyikan. Tampaknya hal itu sudah berlangsung selama beberapa jam, dan akhirnya ia terlelap kedalam tidur yang begitu gelisah.

Saat fajar tiba, ia terbangun dan sadar bahwa segalanya begitu tenang. Dia merangkak ke pintu depan dan kemudian melihat melalui lubang pintu. Ayahnya masih ada disana, terus menatap kepadanya.
Dia dengan sangat hati-hati membuka pintu dan dihadapkan dengan sebuah pemandangan yang begitu mengerikan.
Kepala ayahnya tergantung dari paku yang berada diatas pintu. Ada sebuah catatan yang melekat di bel pintu.

Disitu tertulis: "Gadis pintar!".

Cerbung Horror Indonesia